Selamat Datang di Blog ERIKJON HALOMOAN SITANGGANG
Showing posts with label pertanian. Show all posts
Showing posts with label pertanian. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Alat Penguji Kesuburan Tanah Sederhana

Untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah tidaklah mudah, tidak bisa hanya diraba dan ditrawang. Akan tetapi harus dilakukan uji kesuburan tanah di laboratorium dengan biaya yang tidak murah dan tidak semua petani punya akses untuk melakukan uji kesuburan tanah tersebut.
Oleh karena itu Gerbang Pertanian menyediakan alat sederhana pengukur kesuburan tanah agar para petani Indonesia dengan mudah bisa mendeteksi kesuburan tanah mereka masing-masing setiap saat. Alat tersebut sangat simple karena mudah digunakan dan mudah dibawa.
Cara menggunakan alat pengukur kesuburan tanah:

  1. Ambil segenggam tanah yang akan kita uji. Masukkan kedalam gelas dan tambahkan air murni/ air mineral sampai macak-macak. Aduk-aduk sampai merata (homogen)
  2. Ambil alat penguji kesuburan tanah pasang lampu bohlam 100 watt (bukan lampu TL), dan masukkan jack ke stop kontak. tempat-lampu-alat-pengukur-kesuburan-tanah jack-alat-pengukur-kesuburan-tanah
  3. Tancapkan ujung alat penguji kesuburan tanah ke dalam gelas yang berisi tanah yang akan kita uji tersebut. ujung-alat-pengukur-kesuburan-tanah
  4. Semakin terang nyala lampu tersebut berarti semakin subur tanah kita.
  5. Jika nyala lampu redup atau bahkan tidak menyala sama sekali kita harus menambahkan pupuk organik ke lahan kita agar kesuburannya bisa kembali.
Hati-hati ketika jack menancap pada stop kontak!! Jangan memegang besi ujung alat pengukur kesuburan tanah atau yang terhubung olehnya. Contoh: Jangan menyentuh tanah dan air beserta pengaduknya ketika sedang diukur kesuburannya (ketika ujung alat masih menancap di tanah tersebut).
Kesuburan tanah sangat erat kaitannya dengan kandungan bahan organik tanah. Semakin banyak bahan organik yang terkandung dalam tanah maka akan semakin subur tanah tersebut. Sehingga jika terjadi permasalahan kesuburan pada tanah kita sosusinya tentu pupuk organik. Untuk menjelaskannya coba lihat uji coba sederhana dari Maspary berikut ini:

Kami mengambil dua genggam tanah dari pekarangan, kemudian kami masukkan masing-masing dalam gelas yang berbeda. Yang satu tanpa organik (kiri) dan yang satunya lagi kami campur pupuk organik (kanan).
uji kesuburan tanah1
Lalu kami melakukan tes uji coba terhadap kedua tanah tersebut.
Tanah yang tanpa organik menyala sangat redup

uji kesuburan tanah2
Tanah yang kami campur dengan pupuk organik menyala dengan sangat terang.
uji kesuburan tanah3

Maspary telah mencoba merangkai alat sederhana pengukur kesuburan tanah tersebut dengan sangat praktis, rapih, aman karena rangkaian listrik tertutup oleh plastik paralon yang berkualitas semua (tidak ada rangkaian yang bocor), ringan dan simple (mudah dimasukkan dalam tas dan dibawa kemana-mana). Selain itu alat tersebut juga dirangkai dan di disign sangat kokoh sehingga akan tahan goncangan dan sangat awet digunakan bertahun-tahun. Spesifikasi alat tersebut : Panjang 30 cm, Lebar 18 cm dan berat 325 gr. Sehingga sangat pas digunakan para kelompok tani, penyuluh atau para praktisi pertanian yang lain.

Sumber

ZPT ORGANIK


Dengan menggunakan ZPT/ Hormon organik kita akan ikut berpartisipasi dalam melestarikan bumi kita, karena aplikasinya tidak meninggalkan residu yang akan mengganggu kesehatan manusia. ZPT organik sangat cocok untuk para petani yang sedang menggeluti pertanian organik. ZPT organik juga lebih aman dalam penggunaannya, karena jika dosisnya terlalu banyak tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Dan yang utama ZPT Organik akan bisa digunakan pada semua tanaman, padi, jagung, kedelai, cabai, kacang, kentang, bunga-bungaan dan bahkan tanaman hias.



ZPT organik ini mengandung tiga jenis ZPT/ Hormon (Giberellin, Sitokinin dan Auksin), juga mengandung unsur hara mikro yang sangat dibutuhkan tanaman. Dan yang tidak kalah penting ZPT Organik ini mengandung C-Organik yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki tanah kita baik secara fisik, kimia maupun biologi. Secara rinci kandungan ZPT Organik tersebut adalah:
  • Giberellin 49,55 ppm
  • Sitokinin 42,31 ppm
  • Auksin 37,52 ppm
  • C-Organik 45,8%
  • N Total 1,5%
  • P2O5 2,74%
  • K2O 2,49%
  • Fe 352 ppm
  • Mn 23 ppm
  • Cu 5 ppm
  • Zn 29 ppm
  • B 58 ppm
  • Co 2 ppm
  • Mo 7 ppm

Kalau kita lihat kandungan dari ZPT Organik tersebut bukankah sangat lengkap? Otomatis akan sangat baik untuk meningkatkan hasil usaha tani kita.

Manfaat ZPT Organik tersebut antara lain:

Meningkatkan kesuburan tanah baik secara fisik, kimia dan biologi (fungsi C-Organik)
  1. Meningkatkan jumlah dan aktivitas mikro organiame tanah
  2. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) sehingga mengurangi kehilangan unsur hara dalam tanah
  3. Memperbaiki agregat dan struktur tanah
Memperbaiki dan merangsang pertumbuhan tanaman baik pertumbuhan vegetatif dan generatif
  1. Memperbaiki struktur perakaran tanaman sehingga meningkatkan serapan unsur hara
  2. Pertumbuhan vegetatifnya lebih cepat dan kokoh
  3. Merangsang pertumbuahan tunas baru
  4. Mencegah rontoknya daun, bunga dan buah
  5. Mempertahankan tanaman tetap hijau dan segar sehingga memperpanjang masa panen
  6. Meningkatkan hasil produksi
  7. Meningkatkan kualitas hasil produksi
Cara penggunaannya juga sangat mudah karena bisa dilakukan dengan beberapa cara:
  1. Ditaburkan bersamaan saat pemupukan (dicampur pupuk dasar)
  2. Disemprotkan bersamaan dengan aplikasi pestisida
  3. Dikocorkan dengan memcampurkannya dengan NPK(tanaman hortikultura


Sumber 

Sunday, June 24, 2012

Pertanian Organik

Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik.
Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.Beberapa tanaman Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dengan teknik tersebut adalah padi, hortikultura sayuran dan buah (contohnya: brokoli, kubis merah, jeruk, dll.), tanaman perkebunan (kopi, teh, kelapa, dll.), dan rempah-rempah. Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Pertanian organik juga harus memperhatikan keadilan baik antarmanusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan. Untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan.(Wikipedia)

Sumber:

Friday, May 18, 2012

Sayuran

Sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan asal tumbuhan yang biasanya mengandung kadar air tinggi dan dikonsumsi dalam keadaan segar atau setelah diolah secara minimal. Sebutan untuk beraneka jenis sayuran disebut sebagai sayur-sayuran atau sayur-mayur. Sejumlah sayuran dapat dikonsumsi mentah tanpa dimasak sebelumnya, sementara yang lainnya harus diolah terlebih dahulu dengan cara direbus, dikukus atau diuapkan, digoreng (agak jarang), atau disangrai. Sayuran berbentuk daun yang dimakan mentah disebut sebagai lalapan.
Sayuran dikonsumsi dengan cara yang sangat bermacam-macam, baik sebagai bagian dari menu utama maupun sebagai makanan sampingan. Kandungan nutrisi antara sayuran yang satu dan sayuran yang lain pun berbeda-beda, meski umumnya sayuran mengandung sedikit protein atau lemak, dengan jumlah vitamin, provitamin, mineral, fiber dan karbohidrat yang bermacam-macam. Beberapa jenis sayuran bahkan telah diklaim mengandung zat antioksidan, antibakteri, antijamur, maupun zat anti racun.
Namun, seringkali sayuran juga mengandung racun dan antinutrients seperti α-solanin, α-chaconine [13], enzim inhibitor (dari cholinesterase, protease, amilase, dsb), sianida dan sianida prekursor, asam oksalat, dan banyak lagi.  Tergantung pada konsentrasi, senyawa tersebut dapat mengurangi sifat dpt dimakan, nilai gizi, dan manfaat kesehatan dari diet sayuran. Cooking and/or other processing may be necessary to eliminate or reduce them. Memasak dan / atau pengolahan lainnya mungkin diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi mereka.
Melakukan diet dengan mengonsumsi jumlah sayuran dan buah-buahan yang cukup dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes tahap 2. Dengan diet ini pula, dapat membantu melawan kanker dan mengurangi keropos tulang. Selain itu, dengan kita mengonsumsi zat potasium (banyak ditemui pada buah dan sayur-mayur) akan membantu mencegah terbentuknya batu ginjal.


Sumber ; Wikipedia

Friday, March 23, 2012

BUDIDAYA JAGUNG


I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan





Waktu


Dosis Pupuk Makro (per ha)




Dosis POC
NASA


Urea (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)

Perendaman benih
-

-
-

2 - 4 cc/ lt air

Pupuk dasar
120
80
25

20 - 40 tutup/tangki
( siram merata )


2 minggu
-
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram)


Susulan I (3 minggu)
115

-
55


-

4 minggu
-
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Susulan II (6minggu)
115
-
-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.

D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO

b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO

c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.

d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .

e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan

Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.


Sumber

Budidaya Tanaman Cabe

BUDIDAYA CABAI

A. PENDAHULUAN
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara ( NASA ) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
· Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
· Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
· Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
· Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm
· Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
- Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk.
Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.
- NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 - 10 meter.
· Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dengan 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.
· Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 - 2 minggu ).

2. Benih
· Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30
· Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian

· Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
· Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian
· Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring
· Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS
· Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban

3. Pengamatan Hama & Penyakit
a. Penyakit

· Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
· Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
· Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

b. H a m a
· Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.
· Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
· Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip



D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
· Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus
· Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari)

2. Cara Tanam
· Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
· Plastik polibag dilepas
· Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

3. Pengamatan Hama
· Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI
· Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.
· Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
1. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 - 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.
Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :

Jenis Pupuk
1 - 4 minggu (kg)
5 - 12 minggu
(kg)
Urea
7
56
SP-36
7
28
KCl
7
28

Catatan :
- Umur 1 - 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)
- Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi)
3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 - 30 hr.
5. Pengamatan Hama dan Penyakit
· Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.
· Kutu - kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
· Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO
· Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
· Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha
· Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
1. Pemanenan
· Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
· Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
· Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

2. Cara panen :
· Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
· Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
· Penyortiran dilakukan sejak di lahan
· Simpan ditempat yang teduh
3. Pengamatan Hama & Penyakit
· Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak


Sumber

Sunday, March 18, 2012

Budidaya Tanaman Bawang Bombay

I. Keadaan Umum
1.1. Sejarah Singkat

Bawang bombay diperkirakan berasal dari daerah Asia Tengah (Palestina) yang beriklim subtropis dan mulai menyebar ke daratan Eropa dan India. Sekitar abad ke-16 menyebar ke Benua Amerika, kira-kira bersamaan dengan awal perburuan rempah-rempah oleh bangsa Eropa ke Timur Jauh, yang akhirnya berbuntut dengan pendudukan dan penjajahan negara-negara di Asia termasuk Indonesia oleh bangsa Eropa.

1.2. Sentra Penanaman
Di Indonesia, bawang bombay banyak ditemukan di daerah Tanah Karo (Sumatera Utara), percobaan penanaman di dataran tinggi Karo dengan ketinggian sekitar 2000 m dpl, memperoleh hasil sangat memuaskan. Umbi cukup besar dan pertumbuhannya baik. Bibit yang digunakan untuk penanaman didatangkan dari Belanda.

1.3. Jenis Tanaman
Bawang bombay yang disebut juga bawang timur berada dalam satu garis keturunan dengan bawang merah dengan nama ilmiah Allium cepa L. Perbedaan antara bawang merah dan bawang bombay tidak terlalu menyolok, kecuali bentuknya dan bau/aromanya.

Varietas bawang bombay yang dikenal antara lain:
a) Hari pendek
1.Yellow Granex, ciri-ciri: umbi bulat pipih kekuning-kuningan, beraroma sedang.
2. Texas Yellow, Grano, ciri-ciri: bulat gasing kekuning-kuningan, aroma sedang.
3. Grano, ciri-ciri: kekuning-kuningan agak kecoklatan, aroma sedang.
4. Red Creole, ciri-ciri: bulat pipih merah, aroma/bau tajam.
b) Hari panjang
1. Zittauer, ciri-ciri: bulat pipih kecoklatan, slit berbunga, banyak anakan.
2. Rijosbuiger "Oporto", ciri-ciri: bulat merah kekuning-kuningan, produksi sangat tinggi.
3. Ebenezer Yellow, ciri-ciri: bulat pipihkuning tua, banyak anakan.
Varietas jenis hari pendek yang sudah pernah dicoba di Indonesia dan hasilnya cukup baik antara lain: Red Creole, Burmuda Yellow, Burmuda White, Farly Grano dan Patna Early. Jenis hari panjang yang lain yang cukup terkenal di antaranya Globe Danvers, Yellow Globe, Silver King dan sebagainya. Masih banyak lagi varietas-varietas bawang bombay yang ada diantaranya adalah Exel dan White Creole yang termasuk kelompok hari pendek, kemudian Crystal Grano, San Yoaquin dan California Early Red, yang ter-masuk kelompok hari sedang.

1.4. Manfaat Tanaman
Di Indonesia tanaman bawang bombay ini kurang/tidak populer, maka penggunaannya belum banyak terungkapkan. Penggunaan utama bawang ini adalah untuk bumbu penyedap masakan dan umumnya terbatas pada jenis-jenis masakan tertentu, yaitu masakan Eropa dan Cina. Namun demikian, akhir-akhir ini penggunaan bawang bombay di Indonesia makin menyebar dan makin memasyarakat.

II. Syarat Pertumbuhan
2.1. Iklim

Tanaman bawang bombay menyukai curah hujan yang merata sepanjang tahun. Bawang bombay termasuk tanaman yang memerlukan penyinaran matahari cukup panjang, kira-kira lebih dari 4 jam/hari. Apabila terlalu pendek atau berada di tempat yang teduh/terlindung sehingga tidak cukup mendapat penyinaran matahari maka hasil produksinya rendah, rasanya agak tawar dan tidak tahan disimpan lama.
Bawang bombay sangat cocok di tempat yang udaranya sejuk. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini antara 18-20 derajat C. Pada suhu udara yang lebih rendah antara 1-1,5 derajat C, bawang bombay masih mampu membentuk bunga. Kondisi udara dengan kelembaban relatif berkisar 80-90% (cukup lembab) sangat baik untuk pertumbuhannya.

2.2. Media Tanam
Tanah untuk tanaman bawang bombay adalah tanah yang subur, banyak humus dan gembur. Tanah hendaknya bersifat mudah meneruskan air sehingga tidak mudah becek dan memadat. Jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu, yaitu tanah yang memiliki perbandingan seimbang antara fraksi liat, pasir dan debu. Tanah yang banyak mengandung pasir atau tanah alluvial dapat digunakan untuk bawang bombay. Tetapi karena tanah seperti ini sangat cepat meneruskan air, sehingga perlu diberi pupuk kandang atau bahan organik lainnya untuk meningkatkan daya simpan air dan meningkatkan kesuburannya.
Keasaman tanah yang paling baik adalah sedikit agak asam sampai netral, yaitu pH antara 6-6,8. Pada pH tanah kurang dari 5, garam Aluminium yang terlarut dalam tanah dapat bersifat racun yang dapat menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Sedangkan pada pH yang terlalu tinggi, garam Mangan tidak dapat diserap tanaman bawang sehingga umbi menjadi kecil dan produksinya rendah. Apabila tanahnya terlalu masam, perlu dilakukan pengapuran terlebih dulu untuk mengurangi keasamannya.

2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian optimum yang cocok untuk budidaya bawang bombay adalah berada pada ± 1500
keatas.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan

3.1.1. Persiapan Pembibitan
Bibit bawang bombay sangat sulit untuk didapat. Hal ini disebabkan karena pembudidayaannya masih belum populer seperti bawang merah dan putih. Pengadaan bibit dari jenis bibit impor merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Tentu saja perlu dicari jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi alam dan iklim Indonesia. Alternatif lain dapat pula mengadakan bibit sendiri, baik berupa biji maupun umbinya yang disebut sets.

3.1.2. Bibit dari Biji
Penanaman bawang bombay dapat dilakukan dengan menggunakan biji yang dipersemaikan lebih dulu. Dengan biji ini, biasanya dapat dihasilkan umbi tunggal dan merupakan cara murah karena harga bibitnya relatif murah. Akan tetapi, di iklim tropis seperti Indonesia ini bawang bombay sangat sulit berbunga dan membentuk biji. Untuk dapat berbunga dan membentuk biji, diperlukan suhu udara rata-rata ± 0,1-0 derajat C. Di dataran tinggi seperti Cipanas Jawa Barat dengan ketinggian 1.100 m dpl, pada musim tertentu yang di malam hari beberapa jenis bawang bombay dapat berbunga.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ditempuh cara berikut ini. Umbi bawang bombay yang akan ditanam untuk menghasilkan biji disimpan dulu pada suhu rendah yaitu 5-10 derajat C selama kira-kira 3-4 minggu. Setelah itu, umbi tersebut ditanam di daerah yang sejuk, kemudian agar penyerbukan berjalan dengan baik maka perlu dibantu. Pembantu penyerbukan yang baik adalah serangga, misalnya lebah madu. Oleh karena itu, pemeliharaan lebah madu di daerah pembibitan bawang sangat menguntungkan.
Cara lain untuk mendapatkan biji bawang bombay adalah dengan mendatangkan dari luar negeri. Apabila membeli bibit impor di pasaran, biji yang dipilih merupakan varietas yang bersifat hari pendek alias genjah. Kemudian biji tersebut belum kadaluwarsa karena jika kadaluwarsa daya tumbuhnya sangat rendah dan bahkan dapat gagal sama sekali.

3.1.3. Bibit dari Umbi
Pertama siapkan lahan untuk membuat persemaian. Tanahnya yang benar-benar subur dan gembur. kemudian di tempat persemaian tersebut dibuat alur-alur tebar 7,5-10 cm. Jarak antar alur sekitar 30-35 cm. Kemudian bawang bombay disebarkan pada alur tersebut dengan tebaran yang sedikit agak padat. Untuk tanah yang subur dibutuhkan biji +100 kg/ha tetapi kalau kesuburan tanahnya sedang cukup dengan 75 kg/ha. Sedangkan bila tanahnya kurang subur, sebaiknya jangan menyebarkan terlalu banyak biji, cukup dengan 50 kg/ha saja. Semaian ini dibiarkan tumbuh sesuai dengan ketentuan persemaian biasa namun tidak dilakukan penjarangan semai. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi berlangsungnya seleksi secara alami. Biji yang bagus dan kuat akan tumbuh dengan baik dan biji yang lemah pertumbuhannya tidak baik akan mati.
Setelah semai bawang bombay membentuk umbi muda dengan ukuran tertentu, semai dipanen untuk dipakai sebagai bibit. Ukuran umbi muda (umbi sets) ini dapat dikelompokkan dalam tiga ukuran. Yang pertama adalah kelompok umbi sets besar yang diameter umbinya sekitar 2-2,5 cm atau beratnya 6,3 gram. Kelompok kedua adalah umbi sets sedang yang diameternya 1,5-2 cm dengan berat rata-rata 1,4 gram. Yang terakhir, umbi sets berukuran kecil dengan diameter 0,5-1,5 cm dengan beratnya 0,5 gram.
Sebaiknya, umbi sets yang berukuran di atas 2,5 cm tidak digunakan untuk bibit. Umbi set yang kecil, di bawah ukuran 1,75 cm, sebaiknya juga tidak dipakai untuk bibit karena dapat menghasilkan tanaman yang produksinya rendah. Ukuran 1,75-2,5 cm adalah pilihan untuk bibit yang baik.

3.1.4. Bibit dengan Umbi Tua
Pilihan lain untuk pengadaan bibit bawang bombay adalah umbinya sendiri. Dengan menggunakan umbi ini dapat dihasilkan tanaman yang berumpun. Dapat juga menggunakan umbi samping untuk bibit. Untuk bibit, dipilih umbi dengan ukurannya sedang dan seragam dengan beratnya antara 10-25 gram. Umbi ini dapat diperoleh dengan membeli di pasaran atau dengan memproduksi sendiri. Umbi untuk bibit harus dipilih yang bermutu bagus, tidak terserang penyakit atau ada tanda-tanda terserang penyakit maupun hama. Jangan menggunakan umbi yang cacat, luka, rusak ataupun yang pecah. Pilihlah umbi yang sudah tua, tidak mengkerut, padat, menthes dan mengkilap. Di samping itu, umbi-umbi untuk bibit tersebut harus berasal dari tanaman yang dipanen sudah tua dan telah disimpan cukup lama, yaitu umbi kawak.

3.1.5. Pembuatan Media Semai
Lahan persemaian digemburkan dengan dicangkul dalam sekitar 30 cm, lalu diberi pupuk kandang atau kompos yang telah tua sehingga tanah mengandung banyak bahan organis. Kemudian dibentuk bedengan-bedengan yang lebarnya sekitar 1 meter dan tingginya 10-15 cm. Permukaan bedengan dihaluskan bongkahan-bongkahan tanahnya sampai halus benar dan diratakan. Kalau pinggiran bedengan mudah merosot atau longsor, dapat diperkuat dengan papan atau bilah-bilah bambu.
Sebaiknya bedengan persemaian dibentuk dengan arah utara-selatan untuk mendapatkan cukup banyak cahaya matahari. Sedangkan untuk melindungi semai dari air hujan, perlu dibuat peneduhnya. Peneduh dapat dibuat dari lembaran plastik untuk atapnya. Atap ini dipasang di atas kerangka peneduh, dengan tingginya dibuat 1,25 m di sebelah Timur dan 1 m di sebelah Barat. Dengan cara ini, cahaya matahari di pagi hari yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan bawang dapat masuk lebih banyak ke persemaian.
Untuk tiap bedengan dibuat tiga alur dengan jarak antar alur sekitar 25 cm dan dalamnya alur kira-kira 5 cm. Setelah siap, bedengan dibasahi dulu sampai lembab. Kemudian biji ditabur dalam alur dengan taburan agak jarang, lalu ditutup tanah halus. Untuk tiap hektar penanaman dibutuhkan kira-kira dibutuhkan 2-2,5 kg biji. dimana tiap hektarnya perlu sekitar 300 m2 bedengan persemaian.

3.1.6. Pemeliharaan Persemaian
Persemaian disiram 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari dengan emrat atau sprayer yang halus lubangnya. Hal terpenting adalah persemaian jangan sampai kekeringan, tetapi tidak sampai becek. Agar persemaian tidak cepat kering, dapat ditutup jerami untuk mengurangi laju penguapan air dari permukaan bedengan persemaian.
Satu minggu kemudian, semai sudah mulai tumbuh. Pada saat itu persemaian dapat disiangi untuk menghilangkan rumput-rumput dan gulma lainnya. Sekitar umur 4 minggu, dapat dilakukan penjarangan semai.

3.1.7. Pemindahan Bibit
Setelah berumur 10 minggu, semai dapat dicabut dan ditanam di lahan. sebelum dicabut, bedengan disiram dulu untuk memudahkan pencabutan semai. Semai/bibit dicabut dengan hati-hati dan sebaiknya digunakan pencukil, untuk mencukil tanah berikut semainya. Pada saat tersebut, semai kira-kira berukuran sebesar pensil.
keatas

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Bagi bawang bombay, kondisi tanah yang hendak dicapai dalam pengolahan adalah tanah yang gembur, subur, tidak becek, tidak asam, bebas gulma dan sebagainya. Untuk mencapai kondisi tersebut beberapa perlakuan perlu dikemukakan, di antaranya pengapuran tanah asam kalau diperlukan.

3.2.2. Pembukaan Lahan
Pembukaan untuk budidaya bawang bombay sebaiknya sudah dilakukan sejak 2-4 minggu sebelum penanaman dan dikerjakan saat tidak ada hujan sehingga tanahnya cukup keras dan kering, agar tidak mempersulit pengerjaan dan tidak merusak struktur tanah. Lahan untuk tanaman bawang bombay ini digemburkan dulu dengan penggemburan ringan dengan cangkul, bajak atau traktor. Kemudian sekeliling lahan dibuat saluran irigasi keliling yang mengelilingi lahan. Saluran ini dalamnya sekitar 50 cm dan lebarnya 50 cm.
Kemudian, lahan digemburkan lagi agak dalam sedikit. Sambil digemburkan dalam lahan dibuat saluran melintang dan memotong lahan yang dalam dan lebarnya sekitar 40 cm. Saluran ini disebut saluran drainase. Lalu tanah bongkahan hasil cangkulan dari hasil galian saluran dibentuk bedengan, dengan parit-parit kecil di antara bedengan tersebut. Saluran drainase boleh ditiadakan, sebagai gantinya dibentuk parit-parit antar bedengan.

3.2.3. Pembentukan Bedengan
Lebar bedengan dibuat sekitar 80-100 cm dan panjangnya dapat disesuaikan dengan panjang-pendeknya lahan. Panjang bedengan antara 3-5 m. Kalau lahan agak sulit mendapatkan air, bedeng tidak perlu terlalu tinggi, cukup 15-25 cm saja. Kalau cukup banyak air atau sedikit berlebihan, bedengan perlu sedikit agak tinggi, yaitu 25-35 cm. Lalu parit-parit antar bedengan dibuat dengan lebar 35-40 cm.
keatas

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1 Penentuan Jarak Tanam
Karena umbi bawang bombay cukup besar, jarak tanamnya sedikit lebih renggang. Batasan jarak tanam bawang bombay adalah 25-40 cm, untuk antar baris tanaman dan 10-40 cm antar tanaman dalam baris. Ada yang menggunakan jarak tanam 10 x 25 cm, 30 x 30 cm, 40 x 40 cm. Kalau bibitnya berupa semai, biasanya dipakai jarak tanam 10 x 25 cm. Tetapi jika bibitnya berupa umbi sets atau umbi tua, jarak tanamnya kira-kira 30 x 30 cm atau 40 x 40 cm. Jarak tanam terlalu rapat kurang baik, dan terlalu renggang pun tidak ekonomis.

3.3.2 Pembuatan Lubang Tanaman
Kalau dipakai bibit semai, mula-mula dibuat lubang dengan penugal yang dalamnya kira-kira 5-7,5 cm, kalau tanahnya berpasir. Tetapi jika tanahnya berupa lempung atau yang lain, kedalaman lubang sekitar 5 cm sudah cukup. Selanjutnya, bibit semai ditanamkan ke dalam lubang dengan akar tegak ke bawah dan tanah ditimbunkan ke pangkal batang sambil sedikit ditekan.

3.3.3. Cara Penanaman
Jika digunakan bibit berupa umbi atau sets, mula-mula dibuat lubang dengan penugal untuk membantu menancapkan bibit ke bedengan. Umbi bibit lalu dimasukkan ke dalam lubang, sampai kira-kira bagian bekas potongan pada umbi rata dengan permukaan tanah bedengan. Posisi umbi diusahakan tegak ke atas dengan bagian potongan berada di permukaan tanah bedengan. Jangan sampai meletakkan umbi bibit dalam posisi terbalik. Setelah itu, ditutup tanah tipis-tipis. Setelah penanaman selesai, bedengan dibasahi secukupnya sampai lembab.
Pelaksanaan penanaman bawang bombay usahakan dapat dikerjakan saat tidak ada hujan. Sebaiknya dipilih waktu pagi hari, saat matahari belum terlalu tinggi dan selagi cuaca cerah. Kalau lagi hujan atau cuaca kurang bersahabat, sebaiknya penanaman ditangguhkan dulu sampai cuaca memungkinkan untuk penanaman.
keatas

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyiangan
Penyiangan rumput hendaknya dikerjakan dengan hati-hati agar tidak sampai merusak perakaran bawang bombay. Sambil menyiangi sekaligus dapat dilakukan penggemburan tanah agar permukaan bedengan tidak memadat. Bedengan yang longsor atau rusak dibenahi kembali. Juga saluran dan parit-paritnya. Kalau umbi yang mulai tumbuh nampak terangkat oleh akarnya sampai muncul di permukaan, hendaknya segera dibenahi kedudukannya sehingga umbi tertutup tanah.
Biasanya, penyiangan rumput dilakukan 2 kali, yaitu saat berumur 3 minggu dan setelah berumur 6 minggu. Sering pula saat penyiangan atau penggemburan tanah dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan, sekaligus untuk membenamkan pupuk susulan ke dalam tanah. Jangan menggemburkan tanah selagi bedengan masih basah karena dapat memadatkan tanah. Sebaiknya dikerjakan sebelum pengairan diberikan sehingga tanah bedengan masih kering.

3.4.2. Pemupukan
Bongkahan tanah di atas bedengan dihancurkan sambil diratakan sampai halus dan merata. Kira-kira seminggu sebelum tanam, diberikan pupuk kandang/kompos yang telah tua sebanyak 10-15 ton/ha. Pupuk ini dicampurkan pada tanah bedengan sambil menggemburkan dan meratakan bedengan lagi. Dengan pemberian pupuk ini akan dapat membantu memperbaiki struktur tanah, memperbaiki daya tampung air, kesuburan dan kegemburan tanah.
Setelah itu lahan perlu dibasahi secukupnya dengan memakai emrat atau sprayer. Lalu kira-kira 2-3 hari sebelum penanaman diberi pupuk lagi yaitu pupuk buatan yang berfungsi sebagai pupuk dasar. Tanah bedengan diratakan lagi sekaligus sambil membenamkan pupuk ke dalam tanah. Selanjutnya bedengan dibasahi lagi secukupnya.

3.4.3. Pengairan
Bawang bombay banyak memerlukan air, terutama saat pembentukan umbi. Menjelang pertumbuhan tua, kebutuhan akan air makin menurun dan menjelang panen lebih baik apabila tidak diberi air. Dengan kondisi sistem perakarannya berupa akar serabut yang tidak terlalu panjang, pengairan yang diberikan harus dapat mencapai dan dapat diserap oleh perakarannya. Sementara itu, penanaman bawang bombay umumnya dilakukan pada musim kemarau yang justru tidak banyak tersedia air. Karena itu, peranan pengairan dalam budidaya bawang bombay menjadi sangat penting.
Pengairan dapat dilakukan pula dengan sistem leb, yaitu dengan menggenangi parit-parit dan saluran-saluran. Sistim ini membutuhkan banyak air yang pada saat penanaman, air akan sulit diperoleh (musim kering). Di samping itu, sistim leb dapat menyebabkan memadatnya tanah. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengairan sistim leb adalah usahakan agar pengairan dapat mencapai sistem perakaran dan dapat diserapnya. Setelah pengairan dirasa cukup air dalam parit dan saluran perlu segera dituras/dibuang sehingga tidak menyebabkan lahan menjadi becek.
Cara lain yang lebih baik adalah dengan menyiramkan air melalui emrat/sprayer/sprinkler. Penggunaan emrat lebih cocok untuk mengairi lahan yang tidak begitu luas. Untuk lahan luas, penggunaan sprinkler lebih sesuai. Meski begitu penggunaan alat ini membutuhkan perlengkapan khusus, yaitu pompa air dan sprinkler.
Pengairan pertama dilakukan segera setelah bibit ditanam. Bedengan dibasahi secukupnya. Setelah itu, pengairan dapat dilakukan setiap dua hari sekali yang dikerjakan pagi dan sore hari. Yang perlu diperhatikan adalah tanah-tanah bedengan jangan sampai kekeringan dan juga tidak menjadi becek. Pengairan ini diberikan sampai pembentukan umbi mencapai ukuran maksimum atau sudah menjelang tua.
keatas

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Hama yang menyerang bawang bombay adalah hama bodas, penggerek daun dan lain sebagainya.

3.5.2. Penyakit
Penyakit yang menyerang bawang bombay adalah penyakit embun upas, penyakit busuk, bercak ungu dan sebagainya. Sebagai tindakan pengendalian ada yang melakukan penyemprotan tiap 7-10 hari sekali. Apabila terjadi hujan siang hari (musim kemarau), tanaman harus segera disemprot. Demikian pula jika malam harinya cuaca berembun atau hujan, maka pagi harinya segera disemprot fungisida untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit. Selain itu, dijaga agar tanah bedengan tidak becek.
keatas

3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur panen
Umur panen bawang bombay berkisar 4-5 bulan. Jenis yang berumur panjang dapat mencapai 5 bulan, sedang yang berumur pendek biasanya kurang/sampai dari 4 bulan. Kalau tanaman digunakan untuk menghasilkan umbi untuk bibit, pemanenan dilakukan pada umur yang lebih tua daripada panen untuk umbi konsumsi.
Ciri yang dapat digunakan untuk mengamati saat panen yang baik adalah perubahan warna daun dan batang leher umbinya. Kalau ujung-ujung daun mulai menguning dan batang leher umbi sudah mengempis, berarti saat panen sudah dekat.

3.6.2. Cara Panen
Apabila 30% dari seluruh tanaman sudah mengulai daunnya, maka tanaman dapat dirobohkan untuk mempercepat menuanya umbi dan beberapa hari kemudian bawang bombay sudah dapat dipanen. Jangan dibiarkan terlalu lama karena umbi-umbi dalam tanah pada keadaan demikian dapat menurunkan mutu umbi. Jangan memanen umbi yang terlalu muda karena umbi kurang padat dan jika disimpan akan banyak susut, mudah membusuk dan berkeriput.
Cara pemanen adalah dengan cara mencabut. Apabila sulit dicabut atau daunnya mudah patah, dapat dibantu dengan membongkar bedengan. Panenlah sebelum batang benar-benar kering dan cukup liat untuk dicabut. Pemanenan sebaiknya dikerjakan saat cuaca cerah, tidak mendung apalagi hujan. Sebaiknya waktu pagi hari selagi matahari belum terik dan embun telah hilang.
Setelah dicabut, untuk sementara biarkan umbi-umbi serta batangnya tersebut disimpan di atas bedengan agar sedikit lebih kering. Onggokkan sejajar sedemikian rupa sehingga umbi-umbinya tertimbun daun-daunnya. Dengan demikian, umbi akan terhindar dan terpaan panas matahari langsung. Selanjutnya umbi dapat diangkut ke tempat pengeringan
keatas

3.7. Pascapanen
3.7.1. Penyortiran dan Penggolongan
Sebelum dijual ada baiknya jika umbi-umbi disortasi dulu. Umbi-umbi yang rusak, luka atau terkena serangan hama-penyakit dipisahkan dalam kelompok tersendiri. Tanah yang masih menempel di akar dibersihkan. Bagian batangnya dipotong kira-kira 2 cm di atas batang leher umbi. Jangan memotong terlalu pendek agar tidak mengenai umbi yang dapat menyebabkan luka dan memudahkan terkena hama atau penyakit. Kulit terluar yang sudah nampak terkelupas dibuang sehelai sehingga umbi nampak mengkilap, bersih dan cerah.
Setelah itu, umbi dikelompokan menurut besarnya, yaitu dalam kelompok berukuran besar, sedang dan kecil. Untuk pengepakan dapat digunakan karung atau wadah yang memberikan sirkulasi udara bersih dalam wadah.

3.7.2. Penyimpanan
Di para-para di atas perapian dapur atau dalam gudang dapat digunakan untuk menyimpan bawang bombay. Namun demikian, karena belum banyak petani yang menanam bawang bombay, maka untuk sementara ini mungkin hasil produksi dapat cepat terjual habis.

3.7.3. Pengeringan
Pengeringan bawang bombay dilakukan dengan cara menjemur atau dengan menggunakan pengering buatan. Usahakan agar pengeringan dapat berjalan cepat sehingga kemungkinan kerusakan karena belum kering dapat terhindarkan.

Sumber

Budidaya Tanaman Anggur

I. Keadaan Umum
1.1. Sejarah Singkat

Anggur merupakan tanaman buah berupa perrdu yang merambat. Anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Sedangkan teknologi pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan orang Mesir pada 2500 SM. Dari Mesir budidaya dan teknologi pengolahan anggur masuk ke Yunani dan menyebar ke daerah Laut Hitam sampai Spanyol, Jerman, Prancis dan Austria. Sejalan dengan perjalanan Columbus anggur dari asalnya ini mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia. Penyebaran ini juga menjadikan Anggur punya beberapa sebutan seperti Grape di Eropa dan Amerika, orang China menyebut Pu tao dan di Indonesia disebut anggur.

1.2. Sentra Penanaman
Di Indonesia sentra anggur terdapat di Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Situbondo), Bali dan Kupang (NTT).

1.3. Jenis Tanaman
Anggur termasuk tanaman marga Vitis. Tidak semua jenis dari marga ini dapat dimakan, yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis vinifera dan Vitis labrusca.
Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai ciri:
a) Kulit tipis, rasa manis dan segar.
b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 300 m dari permukaan
laut beriklim kering.
c) Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan Putih,
Situbondo Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden Champion.

Tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunya ciri:
a) Kulit tebal, rasa masam dan kurang segar.
b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 900 m dpl.
c) Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon dan
Isabella.

Dari kedua jenis ini yang banyak dikembangkan di Indonesia dan direkomendasi oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo Biru dan Alphonso Lavalle. Namun ada juga yang dianjurkan ditanam antara lain Gross Collman, Probolinggo Putih, Isabella, Delaware, Chifung dan Australia.

1.4. Manfaat Tanaman
Anggur dimanfaatkan sebagai buah segar maupun untuk diolah sebagai jadi produk lain seperti minuman fermentasi hasil perasan anggur yang mengandung alkohol biasa disebut Wine, dikeringkan menjadi kismis dan untuk keperluan industri selai dan jeli.

II. Syarat Pertumbuhan
2.1. Iklim

Tanaman anggur dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah, terutama di tepi-tepi pantai, dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan.
Angin yang terlalu kencang kurang baik bagi anggur. Curah hujan rata-rata 800 mm per tahun. Dan keadaan hujan yang terus menerus dapat merusak premordia/ bakal perbungaan yaitu tengah berlangsung serta dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit.
Sebaiknya sinar matahari yang banyak/udara kering sangat baik bagi pertumbuhan vegetatif dan pembuahannya.
Suhu rata-rata maksimal siang hari 31 derajat C dan suhu rata-rata minimal malam hari 23 derajat C dengan kelembaban udara 75-80 %.

2.2. Media Tanam
Tanah yang baik untuk tanaman anggur adalah mengandung pasir, lempung berpasir, subur dan gembur, banyak mengandung humus dan hara yang dibutuhkan. Derajat keasaman tanah yang cocok untuk budidaya anggur adalah 7 (netral).

2.3. Ketinggian Tempat
Anggur akan tumbuh baik bila ditanam antara 5-1000 m dpl atau di daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Jenis Vitis vinifera menghendaki ketinggian 1-300 m dpl. Jenis Vitis labrusca menghendaki ketinggian 1-800 m dpl.

III. Pedoman Teknis Budidaya
3.1. Pembibitan
3.1.1. Pengadaan Benih
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, stek cabang, stek mata, penyambungan).Perbanyakan tanaman yang paling efektif anggur adalah dengan menggunakan stek. Bibit stek yang baik adalah:
Panjang stek sekitar 25 cm terdiri atas 2-3 ruas dan diambil dari pohon induk yang sudah berumur di atas satu tahun.
Bentuknya bulat berukuran sekitar 1 cm.
Kulitnya berwarna coklat muda dan cerah dengan bagian bawah kulit telah hijau, berair dan bebas dari noda-noda hitam.
Mata tunas sehat berukuran besar dan tampak padat. Mata tunas yang tidak sehat ukurannya kecil dan ujungnya tampak memutih seperti kapuk.

3.1.2. Teknik Penyemaian Benih
Cara generatif bibit disemai di tempat yang telah disediakan.Cara vegetatif (stek) yaitu :
Pembibitan dikerjakan dengan menyemaikan lebih dulu dalam pot /keranjang sempai kira-kira selama 5 hari
Setelah itu dipindah ke media semai berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Media semai ini berupa polybag/keranjang yang lebih besar dari tempat awal.

3.1.3. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Selama di persemaian selalu disiram dan jangan sampai tergenang.
Penyemaian bibit di tempat teduh dan lembab selama sekitar 2 bulan.

3.1.4. Pemindahan Bibit
Sekitar 2 bulan tersebut bibit sudah tumbuh dan berakar banyak siap untuk dipindah ke lapangan dengan memilih yang segar dan sehat kondisinya.
Penanaman dilakukan di awal musim kemarau/saat panas tertinggi.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan adalah:
a) Menentukan lokasi penanaman.
b) Menentukan luas areal tanam.
c) Mengatur jarak tanam.
d) Membuat lubang tanam.
e) Menentukan dosis pupuk kandang yang diperlukan.

3.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang digunakan dibersihkan dan tidak terlindung dari sinar matahari. Pencangkulan untuk pembuatan lubang tanam dilakukan setelah ada pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibiarkan terkena sinar matahari selama 2-4 minggu.

3.2.3. Pengapuran
Pengapuran hanya dilakukan bila pH tanah rendah/terlalu asam.

3.2.4. Pemupukan
Setelah 2-4 minggu lubang tanam diisi pupuk kandang, pasir dan tanah dengan perbandingan 2:1:1.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Tanaman Angur merupakan tanaman monokultur. Pengaturan jarak tanam penting diperhatikan dan juga sesuai dengan larikan karena arah datangnya angin sangat besar pengaruhnya. Jarak tanam bisa diatur dengan pola: 3 x 3 m, 4 x 4 m, 3 x 5 m, 3 x 4 m, 4 x 5 m, 4 x 5 m, 3 x 5 m dan 4 x 6 m

Jarak tanam mempengaruhi jumlah tanaman persatuan luas :
a) 3 x 3 m untuk 1 Ha = 1.111 pohon
b) 3 x 4 m untuk 1 Ha = 833 pohon
c) 3 x 5 m untuk 1 Ha = 666 pohon
d) 4 x 4 m untuk 1 Ha = 625 pohon
e) 4 x 5 m untuk 1 Ha = 500 pohon
f) 4 x 6 m untuk 1 Ha = 416 pohon

3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam yang diperlukan berukuran 60 x 60 x 60 cm yang disesuaikan dengan jarak tanam, isi lubang berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2.

3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman bibit anggur terbaik pada saat musim kemarau, sekitar Juni dan Juli. Setiap tanaman perlu lahan 20 m² termasuk para-paranya yang harus dipersiapkan sebelum tanamannya tumbuh. Para-para ini berguna untuk merayapkan batang dan cabangnya secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga diberi ajir bambu untuk titian setelah bibit ditanam, agar pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman dan Penjarangan
Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/mati. Pengontrolan dilakukan rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian kontinyu.

Penjarangan buah sangat penting karena buah yang terlalu rapat justru merusak perkembangan buah dan menurunkan kualitas buah. Dalam penjarangan buah-buah yang perlu dibuang adalah: (1) yang bertangkai panjang; (2) tidak sempurna bentuknya; (3) buah yang ada di sebelah dalam; (4) buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.

Penjarangan dilakukan dalam dua tahap, tahap satu saat umur satu bulan setelah pembungaan dan buah masih pentil, tahap dua dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Untuk menjaga kualitas buah, juga perlu dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Pembungkusan dilakukan bila dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak. Bahan yang umum dipakai bungkus adal kertas semen dan kertas koran.

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat tanaman pengganggu sekitar tanaman anggur.

3.4.3. Perempalan
Perempalan bentuk pada anggur dilakukan mulai tanam sampai umur 1 tahun, bertujuan untuk mendapat pertumbuhan yang baik, dengan cara membuang tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.

Perempalan untuk pembuahan dilakukan setelah anggur berumur 1 tahun. Sebelum perempalan diperiksa dahulu dengan memotong ujung salah satu cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, tetapi bila tidak harus ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi gundul. Dalam 1 tahun dilakukan 3 kali perempalan:
1. Tahap I : Maret-April, 90-110 hari
2. Tahap II : Juli-Agustus, 90-110 hari
3. Tahap III : Nov-Des, tahap ini sering gagal

Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil. Tujuannya hanya untuk memelihara tingkat kesuburan tanaman sampai musim hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.

3.4.4. Pemupukan
Ada dua masa pemupukan:
Pemupukan tanaman muda (0-1 tahun)
1. Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari
2. Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari
3. Umur 6-12 bulan, 50 gram urea

Cara pemberian dengan membuat larikan melingkar sekeliling tanaman diameter 10-20 cm sedalam 5 cm.
Pemupukan tanaman dewasa (1-seterusnya)
1. Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang
2. Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK
3. Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea

Pupuk kandang diberikan sekali setahun, tahun kedua dosis dinaikkan jadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter 1,5 m.

3.4.5. Pengairan dan Penyiraman
Yang perlu diperhatikan adalah:
a) Anggur tidak tahan pada air yang tergenang.
b) Anggur butuh pengairan yang harus dilakukan mulai tanam sampai pemangkasan.
c) Menjelang pemangkasan, 3-4 minggu sebelumnya pemberian air harus dihentikan.
d) Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai ujung ranting mengeluarkan air.
e) Pemberian dilakukan sampai buahnya hampir masak, setelah mulai tua pemberian air dihentikan supaya buah tidak pecah dan busuk.

3.4.6. Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai pencegahan terhadap hama yang mengganggu pada anggur. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera Vitifolia digunakan insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.

3.4.7. Pengaturan Bunga
Setelah dua minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5. Bila ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur dapat diadakan pemotongan dengan meninggalkan 3 mata bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja, agar menghasilkan dompol bunga yang besar dan buahnya bisa bermutu tinggi.

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
a. Phylloxera Vitifolia
Menyerang tanaman anggur baik muda maupun tua berakibat anggur jadi kering dan mati. Yang diserang adalah daun dan akar tanaman secara langsung. Gejala umum pada daun terbentuk bisul-bisul kecil dan akar membengkak seperti kutil. Hama ini menetap di bawah kulit batang yang terkelupas dan dalam jaringan akar.

b. Kumbang Apogonia destructor
Bentuk kumbang kecil dan warna hitam mengkilat. Menyerang daun anggur pada malam hari dan kumbang ini mudah tertarik oleh sinar lampu.

c. Wereng daun
Serangan wereng ini menyebabkan daun anggur berbintik putih, kemudian menjadi kuning coklat dan gugur.

d. Kutu putih
Dapat menyebabkan pucuk/tunas menjadi kerdil.

e. Ulat daun
Menyerang daun untuk dijadikan makanannya.

f. Rayap
Serangan yang paling parah bila menggerogoti akar tanaman yang masih muda sehingga membuat jadi layu dan akhirnya mati.

g. Burung, kalong, bajing dan musang
Menyerang buah yang mulai masak untuk dijadikan makanannya.
Cara untuk memberantas hama anggur dilakukan dengan menyemprotkan insektisida pada bagian yang terkena serangan. Penyemprotan dilakukan secara rutin dan dihentikan menjelang masa petik. Khusus hama Phyloxera vitifolia dilakukan dengan menyiramkan insektisida di sekeliling tanaman. Penyiraman bisa dilakukan sebelum tanam, setelah tanam/setelah panen. Sedangkan untuk menanggulangi hama dari hewan besar dapat memakai jebakan.

3.5.2. Penyakit
a. Downy Mildew (jamur)
Gejalanya daun nampak kuning bagian bawah terlihat ada tepung warna putih-kuning. Daun, bunga maupun tandan muda bisa mati bila terkena penyakit ini terutama saat musim penghujan atau kelembaban yang tinggi.

b. Powdery Mildew
Pada permukaan daun terdapat bedak tipis putih kelabu. Menyerang pucuk, bunga dan buah muda bahkan dapat merusak ranting sehingga jadi kerdil dan rusak.

c. Penyakit busuk hitam
Menyebabkan buah jadi keriput, busuk dan gugur.

d. Phakospora Vitis
Daun sebelah bawah tertutup tepung berwarna orange (massa sporanya).

e. Peronospora
Bila udara terlalu lembab jamur ini menyerang daun anggur dan dapat dikenali karena spora berwarna kuning di bawah daun.
Untuk memberantas penyakit anggur dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dengan waktu a sebelum masa berbunga, setelah berbunga dan 8-12 hari sesudah penyemprotan kedua setelah berbunga. Sedang untuk penyakit busuk hitam penyemprotan dilakukan sebelum masa berbunga, saat berbunga dan 2 minggu sebelum masa petik.

3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105-110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam satu tandan telah rata, butir buah mudah lepas dari tandan dan keadaan buah kenyal serta lunak.

3.6.2. Cara Panen
Cara panen dilakukan dalam cuaca yang cerah dan di pagi hari dengan pemetikan yang hati-hati (jangan sampai bedak hilang). Hasil pemetikan dimasukkan keranjang/dos karton diusahakan penempatannya tidak menumpuk, agar buah yang terletak di bawah tidak rusak dan pecah.

3.6.3. Periode Panen
Tanaman anggur dalam satu tahun mengalami dua kali panen.

3.6.4. Prakiraan Produksi
Dari areal tanaman anggur 1 ha dengan rasio jarak tanam 4 x 5, jumlah tanaman 500 batang dengan hasil panen per tahun rata-rata 7.500 kg anggur.

3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Pengumpulan anggur tidak boleh ditumpuk karena dapat merusak buah di bawahnya. Hal yang penting bedak yang terdapat pada anggur dijaga agar tidak hilang.

3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan menyingkirkan buah yang rusak dan buah yang masih terlalu muda dalam satu dompolan. Kemudian anggur digolongkan menurut ukuran dompolan dan keseragaman besar buah.

3.7.3. Penyimpanan
Cara terbaik dalam penyimpanan adalah dengan memasukkan dalam ruang pendingin untuk mengurangi penguapan, tetapi cara yang mudah, ringkas dan kapasitas penyimpanan besar adalah dengan menggantung anggur untuk diangin-anginkan dalam ruang yang sejuk.

3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Cara menggunakan keranjang bambu dilapisi kertas koran. cara ini kurang baik karena banyak buah yang rusak. Cara terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi dengan serbuk gergaji sehingga kerusakan buah dapat ditekan saat pengangkutan.

Sumber

Budidaya Tanaman Anggur

I. Keadaan Umum
1.1. Sejarah Singkat

Anggur merupakan tanaman buah berupa perrdu yang merambat. Anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Sedangkan teknologi pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan orang Mesir pada 2500 SM. Dari Mesir budidaya dan teknologi pengolahan anggur masuk ke Yunani dan menyebar ke daerah Laut Hitam sampai Spanyol, Jerman, Prancis dan Austria. Sejalan dengan perjalanan Columbus anggur dari asalnya ini mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia. Penyebaran ini juga menjadikan Anggur punya beberapa sebutan seperti Grape di Eropa dan Amerika, orang China menyebut Pu tao dan di Indonesia disebut anggur.

1.2. Sentra Penanaman
Di Indonesia sentra anggur terdapat di Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Situbondo), Bali dan Kupang (NTT).

1.3. Jenis Tanaman
Anggur termasuk tanaman marga Vitis. Tidak semua jenis dari marga ini dapat dimakan, yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis vinifera dan Vitis labrusca.
Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai ciri:
a) Kulit tipis, rasa manis dan segar.
b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 300 m dari permukaan
laut beriklim kering.
c) Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan Putih,
Situbondo Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden Champion.

Tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunya ciri:
a) Kulit tebal, rasa masam dan kurang segar.
b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 900 m dpl.
c) Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon dan
Isabella.

Dari kedua jenis ini yang banyak dikembangkan di Indonesia dan direkomendasi oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo Biru dan Alphonso Lavalle. Namun ada juga yang dianjurkan ditanam antara lain Gross Collman, Probolinggo Putih, Isabella, Delaware, Chifung dan Australia.

1.4. Manfaat Tanaman
Anggur dimanfaatkan sebagai buah segar maupun untuk diolah sebagai jadi produk lain seperti minuman fermentasi hasil perasan anggur yang mengandung alkohol biasa disebut Wine, dikeringkan menjadi kismis dan untuk keperluan industri selai dan jeli.

II. Syarat Pertumbuhan
2.1. Iklim

Tanaman anggur dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah, terutama di tepi-tepi pantai, dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan.
Angin yang terlalu kencang kurang baik bagi anggur. Curah hujan rata-rata 800 mm per tahun. Dan keadaan hujan yang terus menerus dapat merusak premordia/ bakal perbungaan yaitu tengah berlangsung serta dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit.
Sebaiknya sinar matahari yang banyak/udara kering sangat baik bagi pertumbuhan vegetatif dan pembuahannya.
Suhu rata-rata maksimal siang hari 31 derajat C dan suhu rata-rata minimal malam hari 23 derajat C dengan kelembaban udara 75-80 %.

2.2. Media Tanam
Tanah yang baik untuk tanaman anggur adalah mengandung pasir, lempung berpasir, subur dan gembur, banyak mengandung humus dan hara yang dibutuhkan. Derajat keasaman tanah yang cocok untuk budidaya anggur adalah 7 (netral).

2.3. Ketinggian Tempat
Anggur akan tumbuh baik bila ditanam antara 5-1000 m dpl atau di daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Jenis Vitis vinifera menghendaki ketinggian 1-300 m dpl. Jenis Vitis labrusca menghendaki ketinggian 1-800 m dpl.

III. Pedoman Teknis Budidaya
3.1. Pembibitan
3.1.1. Pengadaan Benih
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, stek cabang, stek mata, penyambungan).Perbanyakan tanaman yang paling efektif anggur adalah dengan menggunakan stek. Bibit stek yang baik adalah:
Panjang stek sekitar 25 cm terdiri atas 2-3 ruas dan diambil dari pohon induk yang sudah berumur di atas satu tahun.
Bentuknya bulat berukuran sekitar 1 cm.
Kulitnya berwarna coklat muda dan cerah dengan bagian bawah kulit telah hijau, berair dan bebas dari noda-noda hitam.
Mata tunas sehat berukuran besar dan tampak padat. Mata tunas yang tidak sehat ukurannya kecil dan ujungnya tampak memutih seperti kapuk.

3.1.2. Teknik Penyemaian Benih
Cara generatif bibit disemai di tempat yang telah disediakan.Cara vegetatif (stek) yaitu :
Pembibitan dikerjakan dengan menyemaikan lebih dulu dalam pot /keranjang sempai kira-kira selama 5 hari
Setelah itu dipindah ke media semai berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Media semai ini berupa polybag/keranjang yang lebih besar dari tempat awal.

3.1.3. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Selama di persemaian selalu disiram dan jangan sampai tergenang.
Penyemaian bibit di tempat teduh dan lembab selama sekitar 2 bulan.

3.1.4. Pemindahan Bibit
Sekitar 2 bulan tersebut bibit sudah tumbuh dan berakar banyak siap untuk dipindah ke lapangan dengan memilih yang segar dan sehat kondisinya.
Penanaman dilakukan di awal musim kemarau/saat panas tertinggi.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan adalah:
a) Menentukan lokasi penanaman.
b) Menentukan luas areal tanam.
c) Mengatur jarak tanam.
d) Membuat lubang tanam.
e) Menentukan dosis pupuk kandang yang diperlukan.

3.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang digunakan dibersihkan dan tidak terlindung dari sinar matahari. Pencangkulan untuk pembuatan lubang tanam dilakukan setelah ada pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibiarkan terkena sinar matahari selama 2-4 minggu.

3.2.3. Pengapuran
Pengapuran hanya dilakukan bila pH tanah rendah/terlalu asam.

3.2.4. Pemupukan
Setelah 2-4 minggu lubang tanam diisi pupuk kandang, pasir dan tanah dengan perbandingan 2:1:1.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Tanaman Angur merupakan tanaman monokultur. Pengaturan jarak tanam penting diperhatikan dan juga sesuai dengan larikan karena arah datangnya angin sangat besar pengaruhnya. Jarak tanam bisa diatur dengan pola: 3 x 3 m, 4 x 4 m, 3 x 5 m, 3 x 4 m, 4 x 5 m, 4 x 5 m, 3 x 5 m dan 4 x 6 m

Jarak tanam mempengaruhi jumlah tanaman persatuan luas :
a) 3 x 3 m untuk 1 Ha = 1.111 pohon
b) 3 x 4 m untuk 1 Ha = 833 pohon
c) 3 x 5 m untuk 1 Ha = 666 pohon
d) 4 x 4 m untuk 1 Ha = 625 pohon
e) 4 x 5 m untuk 1 Ha = 500 pohon
f) 4 x 6 m untuk 1 Ha = 416 pohon

3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam yang diperlukan berukuran 60 x 60 x 60 cm yang disesuaikan dengan jarak tanam, isi lubang berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2.

3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman bibit anggur terbaik pada saat musim kemarau, sekitar Juni dan Juli. Setiap tanaman perlu lahan 20 m² termasuk para-paranya yang harus dipersiapkan sebelum tanamannya tumbuh. Para-para ini berguna untuk merayapkan batang dan cabangnya secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga diberi ajir bambu untuk titian setelah bibit ditanam, agar pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman dan Penjarangan
Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/mati. Pengontrolan dilakukan rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian kontinyu.

Penjarangan buah sangat penting karena buah yang terlalu rapat justru merusak perkembangan buah dan menurunkan kualitas buah. Dalam penjarangan buah-buah yang perlu dibuang adalah: (1) yang bertangkai panjang; (2) tidak sempurna bentuknya; (3) buah yang ada di sebelah dalam; (4) buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.

Penjarangan dilakukan dalam dua tahap, tahap satu saat umur satu bulan setelah pembungaan dan buah masih pentil, tahap dua dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Untuk menjaga kualitas buah, juga perlu dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Pembungkusan dilakukan bila dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak. Bahan yang umum dipakai bungkus adal kertas semen dan kertas koran.

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat tanaman pengganggu sekitar tanaman anggur.

3.4.3. Perempalan
Perempalan bentuk pada anggur dilakukan mulai tanam sampai umur 1 tahun, bertujuan untuk mendapat pertumbuhan yang baik, dengan cara membuang tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.

Perempalan untuk pembuahan dilakukan setelah anggur berumur 1 tahun. Sebelum perempalan diperiksa dahulu dengan memotong ujung salah satu cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, tetapi bila tidak harus ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi gundul. Dalam 1 tahun dilakukan 3 kali perempalan:
1. Tahap I : Maret-April, 90-110 hari
2. Tahap II : Juli-Agustus, 90-110 hari
3. Tahap III : Nov-Des, tahap ini sering gagal

Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil. Tujuannya hanya untuk memelihara tingkat kesuburan tanaman sampai musim hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.

3.4.4. Pemupukan
Ada dua masa pemupukan:
Pemupukan tanaman muda (0-1 tahun)
1. Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari
2. Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari
3. Umur 6-12 bulan, 50 gram urea

Cara pemberian dengan membuat larikan melingkar sekeliling tanaman diameter 10-20 cm sedalam 5 cm.
Pemupukan tanaman dewasa (1-seterusnya)
1. Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang
2. Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK
3. Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea

Pupuk kandang diberikan sekali setahun, tahun kedua dosis dinaikkan jadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter 1,5 m.

3.4.5. Pengairan dan Penyiraman
Yang perlu diperhatikan adalah:
a) Anggur tidak tahan pada air yang tergenang.
b) Anggur butuh pengairan yang harus dilakukan mulai tanam sampai pemangkasan.
c) Menjelang pemangkasan, 3-4 minggu sebelumnya pemberian air harus dihentikan.
d) Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai ujung ranting mengeluarkan air.
e) Pemberian dilakukan sampai buahnya hampir masak, setelah mulai tua pemberian air dihentikan supaya buah tidak pecah dan busuk.

3.4.6. Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai pencegahan terhadap hama yang mengganggu pada anggur. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera Vitifolia digunakan insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.

3.4.7. Pengaturan Bunga
Setelah dua minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5. Bila ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur dapat diadakan pemotongan dengan meninggalkan 3 mata bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja, agar menghasilkan dompol bunga yang besar dan buahnya bisa bermutu tinggi.

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
a. Phylloxera Vitifolia
Menyerang tanaman anggur baik muda maupun tua berakibat anggur jadi kering dan mati. Yang diserang adalah daun dan akar tanaman secara langsung. Gejala umum pada daun terbentuk bisul-bisul kecil dan akar membengkak seperti kutil. Hama ini menetap di bawah kulit batang yang terkelupas dan dalam jaringan akar.

b. Kumbang Apogonia destructor
Bentuk kumbang kecil dan warna hitam mengkilat. Menyerang daun anggur pada malam hari dan kumbang ini mudah tertarik oleh sinar lampu.

c. Wereng daun
Serangan wereng ini menyebabkan daun anggur berbintik putih, kemudian menjadi kuning coklat dan gugur.

d. Kutu putih
Dapat menyebabkan pucuk/tunas menjadi kerdil.

e. Ulat daun
Menyerang daun untuk dijadikan makanannya.

f. Rayap
Serangan yang paling parah bila menggerogoti akar tanaman yang masih muda sehingga membuat jadi layu dan akhirnya mati.

g. Burung, kalong, bajing dan musang
Menyerang buah yang mulai masak untuk dijadikan makanannya.
Cara untuk memberantas hama anggur dilakukan dengan menyemprotkan insektisida pada bagian yang terkena serangan. Penyemprotan dilakukan secara rutin dan dihentikan menjelang masa petik. Khusus hama Phyloxera vitifolia dilakukan dengan menyiramkan insektisida di sekeliling tanaman. Penyiraman bisa dilakukan sebelum tanam, setelah tanam/setelah panen. Sedangkan untuk menanggulangi hama dari hewan besar dapat memakai jebakan.

3.5.2. Penyakit
a. Downy Mildew (jamur)
Gejalanya daun nampak kuning bagian bawah terlihat ada tepung warna putih-kuning. Daun, bunga maupun tandan muda bisa mati bila terkena penyakit ini terutama saat musim penghujan atau kelembaban yang tinggi.

b. Powdery Mildew
Pada permukaan daun terdapat bedak tipis putih kelabu. Menyerang pucuk, bunga dan buah muda bahkan dapat merusak ranting sehingga jadi kerdil dan rusak.

c. Penyakit busuk hitam
Menyebabkan buah jadi keriput, busuk dan gugur.

d. Phakospora Vitis
Daun sebelah bawah tertutup tepung berwarna orange (massa sporanya).

e. Peronospora
Bila udara terlalu lembab jamur ini menyerang daun anggur dan dapat dikenali karena spora berwarna kuning di bawah daun.
Untuk memberantas penyakit anggur dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dengan waktu a sebelum masa berbunga, setelah berbunga dan 8-12 hari sesudah penyemprotan kedua setelah berbunga. Sedang untuk penyakit busuk hitam penyemprotan dilakukan sebelum masa berbunga, saat berbunga dan 2 minggu sebelum masa petik.

3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105-110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam satu tandan telah rata, butir buah mudah lepas dari tandan dan keadaan buah kenyal serta lunak.

3.6.2. Cara Panen
Cara panen dilakukan dalam cuaca yang cerah dan di pagi hari dengan pemetikan yang hati-hati (jangan sampai bedak hilang). Hasil pemetikan dimasukkan keranjang/dos karton diusahakan penempatannya tidak menumpuk, agar buah yang terletak di bawah tidak rusak dan pecah.

3.6.3. Periode Panen
Tanaman anggur dalam satu tahun mengalami dua kali panen.

3.6.4. Prakiraan Produksi
Dari areal tanaman anggur 1 ha dengan rasio jarak tanam 4 x 5, jumlah tanaman 500 batang dengan hasil panen per tahun rata-rata 7.500 kg anggur.

3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Pengumpulan anggur tidak boleh ditumpuk karena dapat merusak buah di bawahnya. Hal yang penting bedak yang terdapat pada anggur dijaga agar tidak hilang.

3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan menyingkirkan buah yang rusak dan buah yang masih terlalu muda dalam satu dompolan. Kemudian anggur digolongkan menurut ukuran dompolan dan keseragaman besar buah.

3.7.3. Penyimpanan
Cara terbaik dalam penyimpanan adalah dengan memasukkan dalam ruang pendingin untuk mengurangi penguapan, tetapi cara yang mudah, ringkas dan kapasitas penyimpanan besar adalah dengan menggantung anggur untuk diangin-anginkan dalam ruang yang sejuk.

3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Cara menggunakan keranjang bambu dilapisi kertas koran. cara ini kurang baik karena banyak buah yang rusak. Cara terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi dengan serbuk gergaji sehingga kerusakan buah dapat ditekan saat pengangkutan.

Sumber
pertanian - Jhon.Com