Selamat Datang di Blog ERIKJON HALOMOAN SITANGGANG
Showing posts with label Hama Penyakit tanaman. Show all posts
Showing posts with label Hama Penyakit tanaman. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

MOL DAUN GAMAL SEBAGAI PESTISIDA NABATI

Pertisida Nabati


Dari serangkaian berbagai macam MOL yang telah kita bahas terdahulu mempunyai fungsi yang beranekaragam sesuai dengan bahan yang dikandungnya. Memang rekan-rekan harus membuat lebih dari satu macam MOL untuk menghemat biaya usaha taninya.  Dalam pengaplikasiannya juga tidak harus satau macam MOL saja tetapi sebaikknya dikombinasikan berbagai MOL sehingga bisa menghemat biaya tenaga kerja. 

mol-daun-gamal-sebagai-pestisida-nabati

Mol sebagai penyubur tanaman dan dekomposer telah maspary tulis berbagai jenis, dari Mol keong mas, Mol rebung bambu, Mol bonggol pisang dll. Sekarang maspary akan membahas tentang Mol daun gamal sebagai pestisida nabati. Dikatakan sebagai pestisida nabati karena daun gamal bisa berfungsi sebagai pengendali hama ulat dan hama penghisap (kutu), sebagai akarisida (pengendali tungau) dan sebagai fungisida. Menurut beberapa referensi yang maspary baca, dalam Mol daun gamal mengandung  tanin yang bisa digunakan sebagai racun berbagai serangga. Selain sebagai pestisida nabati Mol daun gamal juga digunakan sebagai penyubur tanaman karena dalam Mol daun gamal ternyata juga mengandung unsur N.
Bahan dalam pembuatan Mol daun gamal :
  1. 2 kg daun gamal
  2. 400 gr gula merah
  3. 4 liter air beras
Cara membuat mol daun gamal :
  1. Daun gamal dipotong-potong lalu ditumbuk sampai hancur
  2. Masukkan dalam jerigen
  3. Masukkan gula merah yang sebelumnya diiris-iris halus
  4. Masukkan air beras dalam jerigen
  5. Kocok-kocok supaya tercampur merata
  6. Fermentasikan selama minimal 21 hari
Cara penggunaan Mol daun gamal :
  1. Sebagai pupuk daun dan pestisida nabati campurkan 1 - 4 liter mol daun gamal dalam tangki semprot 14-17 liter air.
  2. Semprotkan secara merata ke tanaman saat pagi atau sore hari.

Mol daun gamal bisa digunakan sebagai langkah awal pencegahan dan pengendalian hama serta penyakit pada tanaman kita, akan tetapi jika masih terjadi serangan hama maupun penyakit sebaikknya segera dilakukan pengendalian yang lain. Bisa juga Mol daun gamal dikombinasikan dengan pestisida nabati yang lain seperti daun mindi, tembakau, biji sirsak, akar tuba dll. 

Sumber 

Sunday, July 8, 2012

PENGENDALIAN OPT SECARA BIOLOGI


    

Pengendalian hayati (biological control) merupakan taktik pengelolaan organisme pengganggu tanaman yang dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan populasi OPT sampai batas yang tidak merugikan .
Musuh alami adalah organisme yang dapat mengendalikan populasi organisme pengganggu tanaman yang merugikan.Praktek pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami telah dilakukan ratusan tahun yang lalu di daratan Cina, namun keberhasilan pengendalian hama pertama dengan menggunakan musuh alami yang tercatat adalah pengendalian hama kutu pada kapas yaitu Icerya purchasi di California Amerika Serikat dengan menggunakan predator kumbang Rodolia cardinalis yang didatangkan dari Australia pada tahun 1882. 
Ada tiga tujuan dari pengendalian hayati, yaitu reduksi, pencegahan, dan penundaan.
ü  Reduksi populasi hama dilakukan setelah hama mencapai tingkat yang menimbulkan masalah. Dengan reduksi (penghilangan), populasi hama diharapkan dapat berkurang ke tingkat yang cukup rendah sehingga hama tidak lagi menimbulkan masalah dalam jangka waktu yang lama.
ü  Pencegahan dalam pengendalian hayati dimaksudkan untuk menjaga/mempertahankan populasi hama potensial agar tidak mencapai tingkat Ambang Ekonomi (AE).
ü  Penundaan dalam pengendalian hayati adalah penurunan populasi hama berarti kita telah melakukan penundaan sebelum populasi hama tersebut berkembang ke tingkat yang lebih tinggi, penundaan terjadi ketika serangga tidak lagi dianggap sebagai hama karena populasinya berada di bawah batas Ambang Ekonomik.

 Keuntungan pengendalian secara biologis adalah :
ü  Selektivitas tinggi dan tidak menimbulkan hama baru
ü  Organisme yang digunakan sudah tersedia di alam
ü  Organisme yang digunakan dapat mencari dan menemukan inangnya
ü  Dapat berkembangbiak dan menyebar di alam
ü  Pengendalian berjalan dengan sendirinya
Musuh alami terjadi atas:
1.      Parasitoid,
2.      Predator
3.      Pathogen


Syarat musuh alami yang baik dan efektif

1.      Menyukai OPT sebagai inangnya dan tidak membahayakan jenis tanaman budidaya (bersifat selektiv).
2.      Mampu menimbulkan kerusakan dan menekan populasi OPT pada tingkat populasi yang rendah .
3.      Mampu berkembangbiak secara cepat dan beradaftasi dengan kondisi lingkungan dimana musuh alami digunakan.

Sampai disini Dulu Yah… lain kali ditambahin oke…..


Parasit Hama dan pengendalian gulma secara biologis


Parasit Hama
•       Parasit adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. 
•       Parasit memakan atau mengisap cairan tubuh inangnya sehingga dapat melemahkan dan akhirnya membunuh inangnya. 
•       Parasit bisa menyerang inang dalam fase telur, larva, maupun pupa

Dalam dunia parasit ,Parasit dibagi 2, yaitu endoparasit dan eksoparasit
•       Endoparasit adalah parasit yang menyerang inang dengan cara memasukkan telurnya ke dalam tubuh inang, kemudian si parasit menjadikan tubuh si inang sebagai tempat mengambil makanan, hidup dan bereproduksi, setelah jadi imago baru akan keluar daru tubuh inang, sedangkan tubuh inang mati dan hancur
•       Eksoparasit adalah parasit yang menyerang inang dengan cara meletakkan telurnya di atas tubuh inang, kemudian si parasit berkembang dan hidup dari tubuh inang dengan cara menghisap cairan makanan si inang sampai si inang mati

Pengendalian secara biologis untuk patogen tanaman
•       Pengendalian hayati khususnya pada patogen penyebab penyakit pada tumbuhan dengan menggunakan mikroorganisme telah dimulai sejak lebih dari 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1920 sampai 1930 .
•       Sejumlah mikroba telah dilaporkan dalam berbagai penelitian .
                efektif sebagai agen pengendalian hayati hama dan penyakit tumbuhan adalah dari genus-genus Agrobacterium, Bacillus,, Erwinia, Fusarium, Gliocladium, Penicillium, Pseudomonas, Pythium, Trichoderma,Verticillium dll.
•       Mekanisme kerja dari agen pengendalian hayati umumnya digolongkan sebagai parasitisme, dan antibiosis .
•       Contohnya adalahJamur Trichoderma sp. untuk mengendalikan Fusarium oxysporum, Phytophtora sp.
•       Jamur Trichoderma koningii digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit yang disebabkan oleh Ganoderma boninense.

Penerapan agen hayati patogen tanaman di lapangan
Penerapan agen hayati patogen tanaman dapat dilakukan dengan cara memberikannya pada bagian-bagian tanaman yang luka karena pemangkasan, melapisi benih tanaman, bahkan dengan memasukkan agen hayati ke dalam malam (wax) yang dipakai dalam proses packing (coating). Inokulasi tanaman inang patogen dengan agen hayati telah pula digunakan untuk melawan patogen umum.
Pengendalian secara biologis untuk gulma
Agen pengendali hayati gulma yang paling sering digunakan adalah serangga herbivora. Serangga herbivora dapat mengendalikan gulma dengan cara :
  1. Memakan/merusak  berbagai bagian tanaman gulma dengan cara melubangi batang atau akar tanaman gulma.
  2. Serangga herbivora dapat pula mengendalikan gulma dengan jalan mentransmisikan penyakit (patogen) tanaman.
  3. Serangga herbivora yang digunakan sebagai agen pengendali hayati harus spesifik, sehingga hanya menekan populasi gulma tanpa berpengaruh buruk terhadap tanaman yang berguna.
  4. Pengendalian hayati kaktus Opuntia inermis dan O. stricta dengan menggunakan ngengat Cactoblastis cactorum di Australia sekitar tahun 1926-1935 adalah satu di antara beberapa keberhasilan pengendalian hayati gulma dengan serangga yang sangat spektakuler.
5.      Gulma air Salvinia molesta  Mitchell  dapat dikendalikan dengan kumbang Cyrtobagous salviniae Calder


Saturday, March 3, 2012

Analisis Vegetasi Gulma

ANALISIS VEGETASI GULMA

NAMA :Erikjon Halomoan Sitanggang
NIM :A4109499
Metodologi
1. Tentukan suatu areal yang akan di analisis
2. Siapkan suatu patok atau batu, lalu lempar secara acak (random)
Lakukan sebanyak 3 kali (3 titik petak contoh)
3. Ukur luasan sebesar 0,5 m X 0,5 m
4. Lakukan pemanenan gulma, pisahkan sesuai dengan species. Hitung per individu dari setiap species yang di temukan
5. Cari kerapatan mutlak dan nisbi, frekuensi mutlak dan nisbi dan juga persentase (%) dominansi
Dengan rumus :
Kerapatan Mutlak
Kerapatan nisbi
Frekuensi mutlak
Frekuensi nisbi
Dominansi


HASIL DAN PEMBAHASAN
JUMLAH INDIVIDU DAN SPECIES GULMA PADA LAHAN
No
Species
Jumlah Individu
Jumlah
1
2
3
1
Rumput Teki
71
41
67
179
2
Rumput – rumputan
37
23
17
77
3
Ilalang
13
-
-
13
4
Putri Malu
-
5
2
7
5
Species E (Daun lebar)
10
4
7
21
6
Species F (Daun Lebar Kecil)
15
10
3
28
TOTAL
146
83
96
325
Kerapatan Mutlak


Kerapatan Nisbi
Frekuensi mutlak


Frekuensi nisbi
Dominansi


NILAI KERAPATAN, FREKUENSI DAN DOMINANSI
No
Species
Kerapatan
Frekuensi
Dominansi
Km
Kn
Fm
Fn
1
Rumput Teki
2
Rumput – rumputan
3
Ilalang
4
Putri Malu
5
Species E (Daun lebar)
6
Species F (Daun Lebar Kecil)
PEMBAHASAN
Gulma ± gulma tertentu cenderung memiliki kemampuan yang sangat baik dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Hal ini memiliki hubungan yang erat dengan jenis gulma dimana gulma jenis tertentu mampu bekembang biak dengan cepat, misal selain dengan biji, ia juga dat berkembang dengan rimpang, lalu bijinya yang ringan dan kebutuhan nutrisi yang toleran serta pertumbuhan yang cepat. Kemampuan gulma tersebut secara alami dapat membuatnya mampu mendominasi suatu lahan dalam penyebaran yang rata maupun acak.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mendapatkan hasil yang telah tertera diatas, dari hasil yang didapat Kerapatan mutlak yang memiliki nilai yang besar adalah rumput teki yaitu sebesar 238,66. Pada kerapatan nisbi pun masih rumput teki yang memiliki nilai yang besar yaitu 55,08 % dan hal ini berlaku untuk frekuensi baik mutlak dan nisbi. Dominansi yang didapatkan pun masih pada rumput teki yang memiliki persentase (%) yang tinggi dibandingkan yang lain.
Hal ini membuktikan bahwa rumput teki adalah vegetasi gulma yang dominan yang ada pada lahan tersebut. Karena lahan yang kita jadikan sample adalah lahan jagung yang sudah ditumbuhi oleh tanaman jagung yang cukup besar. Pada dasarnya rumput teki banyak pada lahan yang pengendalian gulmanya kurang di perhatikan. Dimana rumput yang ada di areal pengamatan tumbuh subur, rumput teki itu sendiri merupakan tanaman yang memiliki umbi. Atau tanaman yang berkembang biak melalui umbi. Pada saat pengolahan tanah umbi rumput tidak mati namun terkubur didalam tanah. Jadi saat penanaman dilakukan tanaman belum muncul kepermukaan rumput sudah tumbuh duluan begitu juga dengan rumput yang berkembang biak dengan biji atau stolon. Sama halnya pada saat penyiangan tanaman rumput teki yang ada di areal penanaman hanya di kikis ,dan yang terpotong hanya bagian batangnnya dan umbinya tidak maka pertumbuhan rumput teki .itulah sebabnya areal tersebut didominasi dengan rumput teki.
Dominasi sarana tumbuh oleh gulma pada tingkat parah dapat dikendalikan dengan herbisida. Menurut (Yakup, 2002) penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma, herbisida merupakan alat yang canggih dalam pengendalian gulma, serta memberikan keuntungan lebih dalam pemakaiannya. Adapun keuntungan yang diberikan oleh herbisida adalah sebagai berikut : dapat mengendalikan gulma sebelum mengganggu, dapat mengendalikan gulma dilarikkan tanaman, dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman, lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar, dalam dosis rendah dapat sebagai hormon tumbuh, dan dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan perlakuan penyiangan biasa.
Hama Penyakit tanaman - Jhon.Com